« January 2009 | Blog home | March 2009 »

February 2009

Max_Lane_copy_(Custom).jpg

Pertemuan LEKRA MANIKEBU di TUK hari ini.

Menganalisa, menilau dan bahkan berpolemik tentang kejadian-kejadian konflik di dunia sastera dan seni di masa lalu memang adalah pekerjaan yang wajar, dan bahkan mendesak, Berdamai - dalam arti berhenti larang-melarang dan sensor-mensensor - akan sangat berguna, meskipun tak mungkin polemik bisa berhenti atau diberhentikan (kecuali dengan sensor-mensensor),

Tetapi bagaimana melawan salah satu dampak negatif yang dahsyat daripada konflik dan sejarah sensor-mensensor ini. Dampak apa yang saya maksud? Sudah 35 tahun sekian puluh juta anak Indonesia tidak dapat pendidkan dalam kusasteraan Indonesia di sekolah, khususnya di sekolah negeri. Di seluruh dunia bangsa-bangsa yang pedulikan budaya menjadikan mata palaaajaran sastera kebangsaan mata pelajaran wajib. Selama enam tahun sekolah menengah setiap murid diwajibkan membaca sekian novel, sekian cerpen, ekian drama, sekian syahrir dan sekian esei dari penulis-penulis terbaik dan terpenting dari negerinya.

Hanya di Indonesia tidak. Karena banyak buku dilarang, lebih jangan diajarkan sama sekali.

Kalau berbagai kubu di dunia sastera ingin"berdamai" alangkah berguna kalau BERSATU menyusun komite kurikulum sastrea Indonesia dan menyusun kurikulm 6 tahun untuk sekolah menegah Indonesia dan kemudian mengkampnyekannya sebagai mata pelajaran wajib di semua sekolah Indonesia. Sebuah kurikulum sastrea dan daftar bacaan wajib sastrea-sastrea terbaik bangsa, tanpa sensor dalam memilih atau menaafsirkannya.

Taufiq Ismail. Gunawan Muhammed, Putu Oka, Joesoef Isak - antara lain, tentu saja - cocok bersatu menjadi pelindung komite. Banyak tenaga muda yang bisa melakukan kerjaan-kerjaan.

Maafkan aku memberanikan diri memajukan anjuran ini.

Max Lane
Singapore.

Lecture/Seminar:

ASIA CENTRE, UNIVERSITY OF THE PHILIPPINES, Diliman, Manila
Thursday, March 12
Time and Room: TBA

"Indonesia's 2009 election campaign and what it reveals: looming crisis of national leadership and governance."

Abstract: The early days of election campaigning are revealing a deep alienation between the majority of the public and the political parties that will be standing in the elections. This alienation is sensed by the political party leaderships who express increasing concern about a possible high GOLPUT (boycott) of the election. Why is it that despite the participation of 44 parties in the elections, no party appears to have won significant popularity? Is this connected to failures in the democratization process and the practice of governance? What are the scenarios for this alienation to be manifested in election results and what are their implications for the Presidential elections to follow and for national politics? If there is a deepening alienation with parliamentary politics, what are the prospects for a resurgence in activity in extra-parliamentary politics? From where might come new national leadership?


For recent events click "more" below

Read more...

The Authors

About the Blog

This blog is aimed to foster serious discussion on international and asian affairs.
More